Breaking News

Tradisi Pencucian Pusaka Tanah Kayong Bangkit Kembali, Ribuan Warga Padati Pendopo Bupati Ketapang


Ale Ale TV News - KETAPANG – Tradisi Pencucian Pusaka Tanah Kayong kembali digelar setelah puluhan tahun vakum. Untuk pertama kalinya, masyarakat Melayu-Bugis Kabupaten Ketapang menghidupkan kembali prosesi adat tersebut di halaman Pendopo Bupati Ketapang, Minggu (28/6/2026), bertepatan dengan 13 Muharram 1448 Hijriah.


Kegiatan yang dipadukan dengan makan durian bersama ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ratusan warga memadati lokasi acara sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya dan warisan leluhur Tanah Kayong.


Ketua Panitia, Rion Sardi H. Zainudi, mengatakan pelaksanaan tradisi ini menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Melayu-Bugis di Kabupaten Ketapang. Menurutnya, pusaka yang dibersihkan merupakan peninggalan para leluhur yang selama bertahun-tahun tidak lagi melalui prosesi penyucian maupun perawatan secara adat.


"Ini merupakan sejarah baru karena tradisi yang telah lama tidak terlaksana akhirnya dapat kembali dihidupkan. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Ketapang agar generasi muda terus mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya Melayu-Bugis," ujarnya.


Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan Melayu dan Bugis dari Kabupaten Ketapang maupun Kabupaten Kayong Utara, serta ratusan masyarakat.


Dalam sambutannya, Wakil Bupati Jamhuri Amir memberikan apresiasi atas terselenggaranya Tradisi Pencucian Pusaka Tanah Kayong. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni adat, tetapi menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, leluhur, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi penerus.


Menurutnya, tradisi tersebut juga mengandung pesan penting tentang persatuan, kebersamaan, toleransi, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga identitas budaya daerah.


"Warisan budaya merupakan aset yang tidak ternilai. Selain menjadi identitas masyarakat Ketapang, budaya juga menjadi modal sosial dalam membangun masyarakat yang berkarakter, berbudaya, dan bertanggung jawab," kata Jamhuri.


Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ketapang berkomitmen mendukung berbagai upaya pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan persaudaraan dan kerukunan masyarakat semakin erat, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.


Di penghujung acara, Rion Sardi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ketapang menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keterbatasan pelaksanaan kegiatan, terutama terkait distribusi buah durian yang belum dapat dinikmati seluruh pengunjung karena tingginya antusiasme masyarakat.


Ia mengakui pelaksanaan perdana masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan pengawasan panitia hingga kondisi cuaca yang kurang mendukung.


"Saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat yang hadir namun belum sempat menikmati durian bersama. Ini merupakan pengalaman pertama kami menyelenggarakan kegiatan sebesar ini. Insya Allah, apabila diberikan umur panjang, kegiatan ini akan kami laksanakan kembali dengan persiapan yang lebih matang, lebih baik, dan lebih meriah," ungkapnya.


Tradisi Pencucian Pusaka Tanah Kayong diharapkan menjadi tonggak kebangkitan budaya Melayu-Bugis di Kabupaten Ketapang. Selain menjaga kelestarian adat istiadat dan nilai-nilai sejarah, tradisi ini juga menjadi penguat identitas daerah sekaligus warisan budaya yang dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang. (HM)

© Copyright 2022 - Suara Kayong